Insurance Motivation for Brighter Health Insurance Nation


“Divre 5! Bisa! Bisa!! Bisa!!!”

“Divre 5! Bisa! Bisa!! Bisa!!!”

“DIvre 5! Kahiji!!!”

Teriakan lantang diatas secara ajaib menjadi moodbooster dalam suasana employee gathering yang dilaksanakan BPJS Kesehatan untuk para pegawainya, khususnya para pegawai di Divisi Regional (Divre) V, pada tanggal 13 November 2016 lalu. Bayangkan bagaimana atmosfir dan euphoria semangat yang ditularkan oleh 515 pegawai terbaik BPJS Kesehatan saat itu? I’m sure that you’ll–me of course– can’t explain it with words!!! THAT’S REALLY FANTASTIC!!!

Jika mendengar nama BPJS Kesehatan digaungkan, maka kita akan langsung “ngeuh” pada kalimat:

“Tidak ada orang kaya dalam dunia kesehatan”

Exactly!!! That the main statement that often spoken by them, right???  Perusahaan yang telah berdiri sejak 1968 ini meyakini bahwa masyarakat dengan segala profesi dan aktivitas nya tidak akan pernah luput dari pengeluaran tak terduga akibat terkena penyakit, baik penyakit berat atau ringan, pun menular atau tidak. Namun itu semua akan menjadi sebuah masalah yang berat ketika individu tersebut terkena penyakit yang berat, yang membutuhkan stabilitas yang rutin, hingga terbebani dengan biaya operasi yang tinggi. Hal ini secara otomatis akan berpengaruh terahadap kondisi keuangan individu tersebut.

SADIKIN alias sakit sedikit jadi miskin

Uang yang sedari dulu disimpan dan dipastikan tetap terjaga dalam tabungan kian hari kian menipis habis untuk mempertahankan kondisi kesehatan yang mulai kritis. Pun harta benda yang diperoleh dengan usaha yang tak sedikit pun perlahan-lahan ikut terkuras habis demi mempertahankan orang tersayang tetap mampu bertahan lebih lama di tengah sakit yang dialami. Hingga akhirnya terpaksa pinjam sana-sini, atau bahkan melakukan tindakan yang tidak terpuji, demi kesehatan orang-orang yang disayangi. Maka tak jarang akan muncul istilah “Sakit sedikit jadi miskin alias SADIKIN”. Dalam sekejap, orang terkaya di dunia ini pun bisa kehilangan beratus-ratus juta lembar uang kesayangannya demi mengobati sakit yang diderita. Hal ini jelas memperlihatkan pada kita bagaimana urgensi kesehatan. Kesehatan memang tak bisa diganti dengan uang, namun kita tak dapat memungkiri bahwa uang jugalah yang menjadi penentu dan penopang kesehatan seseorang.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan BPJS Kesehatanhadir sebagai angin segar bagi masyarakat Indonesia. Badan usaha milik negara ini secara lantang berkomitmen untuk menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, baik itu Pegawai Negri Sipil (PNS), penerima pensiunan, veteran, perintis kemerdekaan dan keluarganya, hingga rakyat biasa yang notabene nya tidak memiliki titel apa-apa.

Sebagai sebuah perusahaan negara yang bertugas melayani seluruh masyarakat yang ada di Indonesia, para pegawai BPJS harus tetap memiliki performa kerja yang luar biasa, tentunya kapanpun, dimanapun, dan se-crowded apapun. Jika si penerima jasa berpeluang miskin ekonomi karena sakit, maka si penyedia jasa –BPJS Kesehatan– memiliki peluang yang sama, yakni berpeluang miskin produktifitas kerja yang disebabkan oleh motivasi yang kian hari kian menurun akibat berbagai penyakit yang datang tanpa permisi, seperti stress kerja yang semakin lama semakin tinggi, tekanan disana-sini, serta kejenuhan yang semakin menjadi karena aktivitas pelayanan yang padat dan tak bisa dihindari. Jika si penyedia layanan jasa nya saja terbaring sakit karena minim motivasi, bagaimana nasib masyarakat Indonesia yang butuh dilayani???

“A learning organization is a group of people who are continually enhancing their capabilities to create what they want to create…”

–Peter M. Senge–

Memahami dan mengantisipasi dampak tersebut, maka para petinggi-petinggi BPJS Kesehatan, terutama di wilayah Jawa Barat, bersama Astria Event Management (AEM), menggandeng Gibasa Consultant untuk bersama-sama menyelenggarakan employee gathering untuk membantu meningkatkan motivasi kerja para pegawai. Tujuan utama dari diselenggarakannya employee gathering adalah sebagai ajang refreshing sekaligus sebagai reward bagi para pegawai atas segala loyalitas yang telah diberikan selama bekerja bersama di lingkungan BPJS Kesehatan.

Jika biasanya employee gathering akan didominasi oleh kegiatan yang bersifat refreshing (saja), disini Gibasa Consultant menawarkan cara pengemasan yang berbeda. Selain difasilitasi untuk me-refresh diri dan pikiran, para peserta diajak untuk melakukan team work building dengan metode Experiental Learning Approach. Metode ini merupakan metode khas yang selalu diterapkan oleh Gibasa Consultant pada para mitra nya. Melalui metode ini para peserta akan banyak melakukan proses pembelajaran dengan cara learning by doing serta mengalami proses perubahan dengan menggunakan pengalaman sebagai media pembelajarannya.

BPJS Kesehatan, yang merupakan perusahaan milik negara dan notabenenya adalah perusahaan dengan tingkat tekanan yang tinggi serta tuntutan pelayanan yang harus selalu maksimal pada masyarakat, menyadari bahwa komposisi dan kerjasama team menjadi sebuah keharusan yang sangat penting. Terlebih perusahaan yang berkewajiban melayani jutaan masyarakat Indonesia ini, tentunya sangat rentan terhadap stress dan penurunan motivasi kerja. Hal ini jika tidak ditanggapi secara serius, maka akan berdampak pada produktivitas dan kualitas pelayanan yang diberikan para pegawai kepada masyarakat. Sebuah team yang hebat akan membuat perusahaan tumbuh menjadi perusahaan yang luar biasa. Dan untuk tetap menjaga serta meningkatkan performa team-nya, employee gathering ini menjadi salah satu kegiatan yang cukup penting dalam sederet daftar agenda perusahaan.

“Team work makes the dream work.”

Maka dari itu, pengalaman yang dirasakan langsung oleh para peserta dalam kegiatan employee gathering ini diharapkan dapat menciptakan dan meningkatkan perasaan enjoy dan fun working ketika bekerja dan bekerja sama dengan para rekannya, baik sesama staf maupun dengan para pimpinannya di BPJS Kesehatan. Selain itu, diharapkan pula terbentuk team work yang solid, relasi antar karyawan yang semakin harmonis, meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja, serta memperbaiki kemungkinan adanya konflik yang muncul antar pegawai perusahaan.

 

_dsc0200

“The show begin …”

Gibasa Consultant dan team berjejer menyambut para peserta mulai dari pintu keluar ballroom hingga lapangan atau area utama tempat akan diselenggarakannya kegiatan employee gathering. Penyambutan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk apresiasi dan ucapan selamat datang pada para peserta. Big group ice breaking kemudian menjadi pembuka dalam kegiatan ini. Peserta diajak bersama-sama secara utuh larut dalam suasana yang really warm, cozy, and enjoyable dengan beberapa games.  Berbagai teriakan dan warna suara bercampur menjadi satu dalam riuh tawa lepas dengan berjuta euforia bahagia sekaligus semakin meningkatkan hangatnya cuaca pagi hari khas Kabupaten Soreang, tepatnya di Sutan Raja Hotel and Convention Centre sebagai lokasi utama pelaksanaan gathering. Dalam waktu kurang dari 15 menit, dengan ajaibnya ice breaking benar-benar memecah kekauan diantara 515 peserta yang ada.

“Mari berjalan-jalan (prok…prok…)

Mari berputar-putar (prok…prok…)

Mari bergoyang-goyang (prok…prok…)

Buat lingkaran ………..”

Atmosfir warm and cozy dari big group ice breaking ternyata masih bertahan dalam diri peserta hingga proses instant grouping. Dengan media games Mari Berjalan-jalan”, peserta secara otomatis terbagi dalam beberapa kelompok. Uniknya, dalam gathering kali ini, agar peserta merasakan atmosfir yang lebih “greget” sebagai sebuah satu kesatuan dan merasakan atmosfir yang lebih intim dari sekedar rekan kerja, maka istilah kelompok diubah menjadi istilah “keluarga”.

Proses pembentukan kelompok menjadi salah satu sesi yang menarik dalam gathering kali ini. Melalui games ini peserta dituntut untuk selalu siap dan sigap dalam “merespon” permintaan apapun yang diterima –dalam konteks permainan ini adalah mencari kawan satu tim dan membentuk lingkaran sesuai jumlah yang disebutkan. Beberapa orang tampak sumringah ketika berhasil mengumpulkan anggota keluarga sesuai jumlah yang disebutkan, namun ada juga beberapa orang yang menampilkan ekspresi sedikit kecewa tidak menemukan keluarga untuk tempat mereka tinggal. Seketika teriakan kepanikan bercampur tawa kembali menggema ketika sebuah keluarga yang masih kekurangan anggota berusaha “mencuri” anggota keluarga lain, pun ketika beberapa keluarga kedapatan berusaha “mengusir” salah satu atau beberapa anggota keluarga karena rumahnya sudah terlalu penuh. Dalam permainan ini, Gibasa Consultant kembali mengajak peserta untuk memahami bahwa untuk mendapatkan sesuatu atau memenuhi tuntutan atau kewajiban yang sedang diemban, mereka perlu mengeluarkan effort sebesar-besarnya, dengan cara yang sportif dan sehat tentunya.

Setelah semua keluarga berkumpul dengan anggota keluarganya masing-masing, mereka diminta untuk menunjuk satu orang sebagai kepala keluarga. Kepala keluarga inilah yang nantinya akan bertugas dan bertanggungjawab sebagai salah satu perwakilan keluarga untuk menyelesaikan sebuah misi yang telah disiapkan oleh tim Gibasa Consultant. Setelah seluruh keluarga memilih kepala keluarganya masing-masing, tiap-tiap kepala keluarga diminta untuk berkumpul untuk membicarakan dan merumuskan strategi yang dianggap jitu untuk menyelesaikan sebuah misi besar-besaran yang diberikan. Sementara para kepala keluarga melakukan pertemuan dan perundingan, para anggota keluarga yang lain diajak untuk mengisi waktu luang di rumahnya masing-masing dengan melakukan sebuah simulasi yang tentunya lagi-lagi sarat akan esensi, yakni Tapak Bumi. Dalam simulasi ini seluruh peserta ditantang untuk menyimpan beberapa anggota tubuh yang disebutkan oleh Master Game diatas tanah.

 

_dsc0254

“30 kaki , 28 tangan…”

Mendengar instruksi tersebut, sontak seluruh peserta berusaha sesigap mungkin menyusun anggota badan yang disebutkan diatas tanah. Level pertama yang merupakan level yang dengan mudahnya dilalui oleh peserta dengan raut wajah bangga. Semakin lama level simulasi ini semakin bertambah. Ketika level semakin tinggi, jumlah anggota tubuh yang diperbolehkan menyentuh tanah pun semakin sedikit. Hal ini sontak memicu kericuhan, teriakan, perdebatan, kepanikan dan berbagai ekspresi kebingungan yang ditampilkan oleh para peserta. Namun, hal yang menarik ketika melakukan simulasi ini adalah, ketika salah seorang peserta yang dengan senang hati mengizinkan badannya dijadikan pondasi oleh kawan satu timnya, ditumpangi, diduduki, hingga diinjak agar bisa menyelesaikan tantangan dalam simulasi tapak bumi. Hal ini menunjukkan bahwa peserta mampu menunjukkan respon yang luar biasa dalam hal berkorban atau memberikan kontribusi demi tercapainya tujuan kelompok. Selain itu, melalui simulasi ini, peserta menunjukkann effort yang luar biasa dasyat nya demi mencapai tujuan kelompok.

“The achievement of an organization are the result of the combined effort of each individual”

–Vince Lombardi–

Semangat kebersamaan pun tak pernah berhenti diteriakkan oleh masing-masing kelompok ketika berusaha menyelesaikan permainan. Tampilan-tampilan tersebut merupakan tampilan aspek customer focus yang coba disisipkan oleh tim Gibasa Consultant dalam rangkaian employee gathering ini. Gibasa Consultant mencoba mengajak para peserta untuk mengalami, merasakan, dan mengaplikasikan bagaimana memahami kebutuhan kelompok, bagaimana fokus dalam melayani dan menjalin relasi dalam kelompok agar tercapainya suatu tujuan. Poin yang paling penting adalah Gibasa Consultant ––dalam kemasan yang lebih sederhana dan mudah dipahami tentunya–– berusaha mengajak para peserta untuk secara sederhana mengaplikasikan rasa rela berkorban dan totalitas dalam memberikan effort yang  besar demi kelompok. Harapannya, ketika para peserta telah secara sukarela berkorban demi kelompoknya, baik tenaga maupun pikiran, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan lebih all out dalam berkorban dan melayani para pengguna jasanya di dunia kerja yang sebenarnya.

Di tengah permainan, ternyata para kepala keluarga mulai kembali ke keluarganya masing-masing. Mereka mulai menyampaikan hasil dari perundingan yang telah mereka lakukan terkait misi yang diberikan. Misi yang harus mereka selesaikan adalah sebuah misi besar-besaran. Mereka dituntut untuk saling bekerja sama antar keluarga agar dapat menyelesaikan sebuah Big Mission. Misi yang harus mereka selesaikan adalah membuat sebuah peradaban baru bernama Kampung Sarerea”.

Membuat sebuah peradaban bukanlah perkara mudah, terlebih dengan keberagaman yang luar biasa yang di dalamnya. Peradaban bukan hanya sekedar memberikan label atau nama atas sebuah perkumpulan. Peradaban yang dibuat haruslah menyerupai peradaban baru yang sebenarnya. Lengkap dengan rumah adat, tarian adat, lagu daerah, dan tentunya baju adat yang melambangkan ciri khas dari peradaban baru yang mereka cipatakan serta satu orang anggota keluarga yang akan menjadi mascot atau icon dari peradaban tersebut. Tidak hanya sampai disana, para peserta juga ditantangan untuk mampu menyelesaikan misi ini dalam waktu kurang dari 30 menit plus hanya dibekali bahan seadanya untuk membuat berbagai atribut dan perlengkapan sebagai penanda bahwa terdapat peradaban baru yang diciptakan. Peresmian peradaban baru ini kemudian akan ditandai dengan pembuatan symbol berupa 12 rumah adat yang mengelilingi sebuah tugu yang diatasnya nanti akan ditancapkan bendera BPJS Kesehatan sebagai tanda bahwa peradaban baru memang sudah benar-benar berdiri dan hidup di wilayah tersebut.

Dalam big mission ini, tim Gibasa Consultant kembali mengajak para pesertanya untuk sama-sama melakukan experiental learning merasakan, memahami, dan mengaplikasikan dalam diri masing-masing untuk semakin melebur dalam kelompok dan menghilangkan perbedaan kelompok. Para peserta diajak membangun kelompok besar yang lebih baru, lebih solid, lebih berwarna, namun tetap tampak harmonis didalamnya.

“Yang terpenting bukanlah merubah banyak warna menjadi satu warna, namun yang terpenting adalah mengharmonisasikan warna-warna yang ada menjadi lebih padu, lebih indah, dan lebih berguna saat disandingkan bersama…”

Dalam misi ini, dapat dengan jelas terlihat bagaimana dinamika kerja yang diperlihatkan oleh para peserta. Bagaimana mereka bekerjasama untuk tujuan kelompok, bagaimana mereka berbagi peran, menyelesaikan permasalahan, memahami satu sama lain, menyelesaikan konflik di dalam kelompok. Hal ini tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi tim Gibasa Consultant dan tim penyelenggara dari pihak BPJS Kesehatan. Selain bisa melihat gambaran dinamika kerja peserta, mereka juga secara tidak langsung mampu melihat apa yang menjadi kelemahan dan perlu dikembangkan.

“You are different. And I am different too. Different is good. But different is hard. Believe me, I know”

–Matthew Quick

Dalam misi ini, peserta juga secara tidak langsung ditantang untuk menyatukan berbagai perbedaan yang ada. Perbedaan ide, pemikiran, kemampuan, bahkan perbedaan kesediaan untuk mencapai tujuan bersama. Peserta diajak memahami lebih jauh tentang makna perbedaan. Perbedaan memang sesuatu yang baik, sesuatu yang indah, namun kita juga tidak bisa menutup mata bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipadukan. Different is good. But different is hard. Disinilah peserta diajak untuk mencari solusi bagaimana memadukan semua perbedaan yang ada menjadi lebih harmoni.

12 keluarga tentunya akan memiliki 12 karakterisitik yang berbeda. Rumah adat yang berbeda, tarian adat yang berbeda, pakaian adat yang tentunya juga berbeda di setiap keluarga, hingga mascot atau iconic yang juga punya ciri khas tersendiri di setiap keluarganya. Namun, para peserta membuktikan bahwa meskipun mereka memiliki keunikan yang berbeda di setiap keluarganya, mereka tetap berasal dari satu keluarga besar yang sama, yakni BPJS Kesehatan.

“Kampung Sarerea. Mission Completed!!!”

_csc0482

Euforia semangat bercampur haru tampak ketika 12 keluarga melakukan parade menuju tugu utama sambil menyanyikan satu lagu kebangsaan yang telah mereka buat bersama. Di barisan depan parade, tampak 2 orang pimpinan utama dari peradaban mereka menaiki “sisingaan” sambil membawa bendera BPJS yang siap ditancapkan di atas tugu utama. 

Euforia haru dan semangat ke 515 peserta mencapai puncaknya ketika bendera BPJS Kesehatan perlahan ditancapkan di atas tugu utama, yang menandakan bahwa peradaban baru yang bernama “Kampung Sarerea” telah diciptakan oleh ke 515 peserta BPJS Kesehatan. Ditancapkannya bendera BPJS Kesehatan di tugu utama juga menandakan bahwa para peserta telah berhasil menyelesaikan misi yang telah diberikan dan tentunya tepat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Proses gathering and refreshing dengan perpaduan metode enjoyable and experiental learning ini diakhiri dengan refleksi tentang apa yang telah mereka lalui dari awal hingga akhir. Refleksi yang dilakukan dengan cara yang easy going dengan diiringi musik-musik asik dan tak ketinggalan goyangan-goyangan energik para peserta karena pengaruh alunan musik, tentunya membuat para peserta lebih mudah memahami esensi yang disampaikan. Belajar menyusun strategi, merumuskan tujuan bersama, merekatkan keintiman antar peserta, berkomunikasi secara efektif, belajar bekerja dan bekerja sama, memiliki sifat rela berkorban dan berkontribusi aktif, serta yang terpenting adalah rasa senang yang dirasakan oleh para peserta menjadi poin penting sehingga hal itu dapat dihubungkan dengan pengalaman bekerja di BPJS Kesehatan.

Proses gathering ini diharapkan bukan hanya sebagai kegiatan dengan tujuan me-refresh diri dan pemikiran para peserta saja, namun para peserta mampu meningkatkan motivasi dan produktivitas kerjanya berdasarkan pengalaman yang telah dirasakan melalui simulasi-simulasi sederhana yang diberikan. Organisasi yang baik dan berkinerja tinggi hanya bisa terwujud jika timnya mampu bersinergi. Agar mampu bersinergi, maka setiap elemen di dalam organisasi tersebut harus menyadari bahwa mereka merupakan satu tubuh yang tak bisa mencapai prestasi tanpa andil dari berbagai sisi, tak mampu memaksimalkan diri jika hanya bekerja sendiri, tak mampu memajukan organisasi jika hanya berdiam diri tanpa kontribusi, tak akan pernah mampu berpadu secara harmoni jika memaksakan tujuan pribadi, dan yang terpenting tak akan pernah mampu bekerja sama dalam jangka waktu yang lama jika tak mampu memahami dan menghargai perbedaan yang ada dalam setiap elemen organisasi.

 

_dsc0378

“A good organization is like box of crayons. You need different colors of the spectrum, but all the crayons should fit in the box.”

–Barbara Corcoran

Jika memberikan jaminan pada masyarakat seluruh Indonesia saja mampu mereka lakukan dengan luar biasa baiknya, maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika para pemberi layanan kesehatan ini juga mampu menjamin kualitas kinerja dan produktivitas pelayanan dalam timnya. Mereka memang terbagi dalam kantor cabang yang berbeda––Kantor Cabang Utama Bandung, Kantor Cabang Sukabumi, Kantor Cabang Utama Karawang, Kantor Cabang Utama Cirebon, Kantor Cabang Utama Tasikmaya, Kantor Cabang Sumedang, Kantor Cabang Soreang, Kantor Cabang Banjar, dan Kantor Cabang Cimahi––namun mereka tetap dalam satu tubuh yang sama, tetap dalam satu rumah yang sama, dan tetap dalam satu bendera yang sama, yakni Bendera BPJS Kesehatan. Bukankah sudah seharunya sesama anggota keluarga mampu memahami, merasakan, dan bekerja sama layaknya satu tubuh manusia?  Jika hal ini telah mampu diwujudkan, maka bukan hanya label sebagai perusahaan besar milik negara yang dapat dibanggakan, tapi juga kualitas SDM yang luar biasa dan dilandasi profesionalitas namun tetap menjunjung tinggi kekeluargaan yang nantinya akan diacungi jempol sebagai tanda penghargaan. Dan yang terpenting, masyarakat-masayarakt Indonesia akan semakin nyaman karena mendapatkan pelayanan dari SDM-SDM yang bukan sembarangan.

Lagi-lagi, kami team of Gibasa Consultant kembali hadir menunjukkan peran. Sesuai akronim pada nama GibasaPsikologi Bagi Bangsainilah kontribusi kami sebagai praktisi psikologi bagi bangsa Indonesia. Bukan hanya sebatas memberikan gathering dan kesenangan semata bagi para peserta BPSJ Kesehatan sebagai mitra kerja, tapi secara tidak langsung sedikitnya Gibasa Consultant membantu mewujudkan impian masyarakat Indonesia untuk memiliki pelayan-pelayan negara yang tak segan apalagi sembarangan dalam bekerja dan dan selalu memberikan performa terbaik dalam melayani masyarakat Indonesia.

Author: Dhian Ningrum Sulistiawati