Make Yourself Well-Prepared for Living a Happy Marriage


“… sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).”
(Q.S. An-Nuur: 26)

Setelah menerbitkan Novel “Noemi. Yang Baik untuk yang Baik?” pada bulan Oktober 2017 lalu, penulis novel—Kang Saeful Zaman—begitu banyak mendapatkan respon positif dan apresiasi, termasuk banyaknya permintaan dari para pembaca agar novel ini dikaji dan dibahas dalam bentuk seminar.

Novel ini berkisah tentang proses dinamika pemuda berandalan yang ingin menikahi akhwat aktivis masjid. Akhirnya kedua muda-mudi itu memproses rencana pernikahannya melalui tahapan yang syar’i, namun proses menuju itu ternyata penuh lika-liku. Kondisi psikologis keduanya sarat dengan hambatan dan tantangan. Psikologi pernikahan menjadi menu utama dalam novel ini. Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari novel tersebut termasuk tentang bagaimana proses yang baik menuju pernikahan khususnya dari sudut pandang Agama dan Psikologi Pernikahan. Melalui kajian Psikologi Pernikahan kita dapat merunut hal-hal yang perlu dipersiapkan baik sebelum ataupun setelah menikah seperti niat, hambatan, dan tantangan dalam dinamika pernikahan. Permasalahan yang terjadi saat menjalani kehidupan berumah tangga, harus tersolusikan.

Permasalahan yang sering ditemui dalam rumah tangga adalah perbedaan dalam pengertian dan harapan, perbedaan dalam pemahaman agama, perbedaan dalam kondisi kesehatan, serta perbedaan dalam perencanaan keuangan yang akhirnya mempengaruhi kondisi psikologis pasangan. Perkembangan zaman turut mempengaruhi pola tugas dari laki-laki (suami) dan perempuan (istri).

Perbedaan-perbedaan ini ketika tidak terkomunikasikan dengan baik, tentu akan membuat kehidupan pernikahan semakin runyam dan menjadi jalan munculnya benih-benih konflik yang terus membesar. Maka sebelum semua itu terjadi, persiapan pernikahan selayaknya meliputi pengkondisian Agama yang mendalam, pemahaman terhadap kondisi kesehatan diri dan calon pasangan, serta memiliki perencanaan keuangan yang baik. Bahkan bagi yang telah menikah sekalipun, pemahaman ini selayaknya dicermati kembali untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan dengan baik dan apa yang masih bisa diperbaiki.

Islam memberikan arahan, bahwa pernikahan adalah pelaksanaan sunnah Rasul, selanjutnya adalah untuk melanjutkan keturunan, memperoleh ketenangan jiwa, menjaga harga diri dan kehormatan serta menjauhkan perbuatan haram dan menghalalkan syahwat. Jika seseorang telah mengetahui tujuan dari pernikahan, maka dalam menjalani kehidupan rumah tangga akan menjadi terarah.

Karena permintaan pembaca dan juga dalam upaya mencegah dan memperbaiki permasalahan-permasalahan tersebut, PT. Psikologi Bagi Bangsa (Gibasa Consultant) menyelenggarakan Seminar Psikologi Pernikahan Ditinjau dari Perspektif Agama, Kesehatan, dan Keuangan dengan tema “Yang Baik untuk yang Baik?”. Seminar ini terbuka baik bagi yang belum ataupun telah menikah.

Seminar Psikologi Pernikahan ini dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2017. Acara dimulai pada pukul 08.30 oleh Yuckiancha Isa, S.Psi yang berperan sebagai MC. Dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sdr. Hanif Al-Hafidz.

Acara ini terdiri dari dua pokok acara, yaitu bedah novel “Noemi. Yang Baik untuk yang Baik?” dan pemaparan materi oleh 4 pembicara. Sebelum memasuki acara pertama, MC mempersilahkan Ust. H. Budi Prayitno untuk memimpin doa bagi saudara-saudara kita yang menjadi korban Gempa Bumi di daerah Tasikmalaya, Ciamis, dan sekitarnya, juga bagi saudara-saudara kita di Palestina yang terus berjuang untuk membebaskan tanah suci dari penjajahan Israel.

Sebelum masuk ke sesi pertama, sebagai sesi hiburan peserta bernyanyi bersama dengan kang Zaki 4 Peniti. Salah satu lagu yang Kang Zaki bawakan adalah soundtracknya novel Noemi. MashaAllah… suara merdu, sendu, mendayunya mengalun membuka kegiatan bedah buku yang juga menjadi pokok acara dalam kegiatan seminar ini. Tidak lupa, kita juga mengadakan sesi doorprize dari sponsor loooh!

Acara pertama yaitu bedah novel “Noemi. Yang Baik untuk yang Baik?” yang dibawakan oleh kang Saeful Zaman, S.Psi., M.M. Pada sesi ini, Kang Saeful menceritakan bagaimana proses novel ini diproduksi, dari mulai pencarian ide, baper-bapernya saat menulis isi novel ini, sampai akhirnya novel Noemi ini diterbitkan. Kang Saeful juga menceritakan bahwa banyak sekali hal menarik yang beliau hadapi ketika proses penulisan.

Beliau merasakan betapa hebatnya terpaan saat seorang Dikdik memutuskan untuk hijrah dan istiqomah dijalan yang baik, bagaimana hebatnya dinamika kehidupan dan juga dinamika percintaan Noemi dan Dikdik. Selama sesi bedah buku yang dipaparkan oleh Kang Saeful ini, para peserta dibuat gemas dengan tokoh Noemi dan Dikdik yang menjadi tokoh utama di novel “Noemi. Yang Baik untuk yang Baik?”.

Masuk pada pemaparan materi pertama tentang Psikologi Pernikahan, para peserta semakin terlihat antusiasmenya. Materi pertama ini dibawakan oleh Aundriani Libertina, S.Psi., M.Psi. atau yang sering panggilan akrabnya teh Aund. Di awal materi teh Aund menyampaikan gambaran umum dari Psikologi Pernikahan dan kesiapan menikah.

“Kesiapan menikah merupakan keadaan (mental) yang siap berespon terhadap komitmen dan tanggung jawab dalam pernikahan.”

Selain itu dijelaskan juga mengenai motif pernikahan, bagaimana cara yang tepat dalam berkenalan dengan calon pasangan, hal-hal yang perlu dipersiapkan menghadapi masa pernikahan dan cara terbaiknya, juga tentang hal-hal yang dialami oleh para istri dalam menghadapi masalah pernikahan, kepuasan pernikahan, keberhasilan pernikahan, dan komitmen pernikahan.

Komitmen pernikahan merupakan kesepakatan berdua tentang bagaimana pernikahan akan dijalani sehingga muncul visi dan misi pernikahan.”

Selain memaparkan materi di atas, teh Aund juga menjelaskan tentang keterampilan komunikasi yang efektif dalam pernikahan, keterampilan mengekspresikan cinta, keterampilan penanganan masalah, dan bahkan keterampilan berhubungan seks secara psikologis.

“A strong marriage rarely has two strong people at the same time. It is a husband and wife who take turns being strong for each other in the moments when the other feels weak.”
― Ashley Willis ―

Materi ke-2 disampaikan oleh Ust. H. Budi Prayitno dengan judul materi Jihad yang Manis. Ust. Budi membuka sesi materinya dengan pernyataan bahwa “Menikah adalah perintah Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW.” Setelah itu dilanjutkan dengan penjelasan tentang hal-hal yang harus dipersiapkan untuk menjalani pernikahan dari perspektif agama, penjelasan bahwa keluarga adalah amanah dan ladang dakwah terdekat, dan juga tantangan era digital dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Kemudian dilanjutkan dengan materi ke-3 oleh dr. Aditya Muliakusumah, SpOG, MBA. yang memaparkan penjelasan Psikologi Pernikahan ditinjau dari perspektif Kesehatan khususnya terkait Seksologi dan Ginekologi. Pada sesi ini dr. Adit—panggilan akrabnya—membuka pemateriannya dengan pertanyaan “Apa itu seks dan seksualitas?”.

Pada sesi ini peserta terlihat sangat fokus dan antusias karena konten materi yang membutuhkan konsentrasi lebih. Ya, karena pada sesi ini dr. Adit banyak menjelaskan ilmu Biologi khususnya tentang sistem reproduksi manusia dan kehamilan. Di samping itu, dr. Adit juga menerangkan dalil-dalil tentang hubungan seksual dalam Islam. Kemudian selain materi seksologi, dr. Adit juga banyak membahas tentang kehamilan, yaitu tentang bagaimana persiapannya baik pra kehamilan maupun saat persalinan, perawatan kesehatan apa saja yang diperlukan pra kehamilan, bagaimana proses kehamilan itu terjadi, tanda-tanda terjadinya kehamilan, cara mengatur kehamilan yang sehat, cara perawatan kehamilan oleh keluarga, serta manfaat ibu menyusui.

Dilanjutkan dengan materi terakhir, materi ini disampaikan oleh kang Osep Nugraha, CFP, QWP, RFPC dengan judul materi Merajut Cinta keluarga, Merenda Hidup Sejahtera. Sebelum masuk pada penjelasan materi, kang Osep berinteraksi terlebih dahulu kepada peserta dengan meminta peserta untuk memilih apakah ingin menjadi orang kaya bersyukur atau orang miskin bersabar. Peserta dengan serentak menjawab “Orang kaya bersyukuuur!”. Secara umum kang Osep memaparkan tentang persiapan-persiapan menuju keluarga yang sejahtera, mulai dari laporan keuangan pribadi, perencanaan pembelian rumah, persiapan dana pendidikan, perencanaan dana hari tua, dan juga tentang personal fainancial planning life cycle.

Setelah semua pembicara menyampaikan materinya, di sesi terakhir teh Aund kembali ke stage untuk menyampaikan closing statement dan juga membahas pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab di materi sebelumnya khususnya yang terkait dengan Psikologi Pernikahan. Karena begitu banyak pertanyaan yang masuk berupa kasus-kasus yang dialami secara personal sehingga cukup membutuhkan analisis yang mendalam. Di akhir teh Aund juga menyampaikan kepada para peserta untuk tidak sungkan membuka obrolan langsung dengan teh Aund setelah acara seminar ini, terlebih lagi bagi peserta yang merasa belum benar-benar menyampaikan pertanyaannya dengan tuntas ataupun peserta yang belum puas dengan jawaban yang diberikan karena keterbatasannya waktu.

Sebelum peserta meninggalkan tempat, MC meminta seluruh peserta untuk mengisi angket kepuasan kegiatan. Banyak peserta yang mengungkapkan bahwa mereka puas dengan Seminar Psikologi Pernikahan ini. Mereka merasa bahwa seminar ini berbeda dengan seminar-seminar pernikahan lainnya. Karena dari seminar ini mereka mendapatkan ilmu-ilmu yang lebih mendalam dari setiap perspektif ilmunya.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan seminar ini. Kepada para media partner diantaranya Harian Umum Pikiran Rakyat, Harian Umum Republika, Radio Mara, Radio Zora, dan Komunitas-komunitas Islam seperti Syair Islam, Percikan Iman, Dakwah Islam Indonesia, Parenting Islam, Lentera Dakwah, dan Muslimah Move Up yang telah membantu proses publikasi kegiatan seminar ini. Selain itu juga, kepada para Sponsor diantaranya Simply Look by Tuneeca, Gudang Unggul, MutifCorp, Kefir Inside, Waydee, dan Mae’s yang juga sudah membantu terselenggaranya kegiatan seminar ini.