KEPEMIMPINAN NASIONAL 2


BAGIAN II :  GAYA JOKOWI MEMIMPIN DAN KECERDASAN SPIRITUAL

Blusukan

Jokowi terkenal karena gaya blusukannya.  Jokowi blusukan, berkeliling dari pemukiman kepemukiman ; jalan-jalan tanah kampung dan jalan berbatu-batu desa, sampai melewati gang-gang  sempit dalam kota. Jokowi bertemu, mendengar dan melihat langsung keluhan, keinginan dan aspirasi warganya. Bahkan pengawasan mendadak langsung pada sejumlah bawahan. Kelurahan, kecamatan  sampai kantor walikota langsung didatangi.1,2,3   Puskemas sampai rumah sakit daerah diinspeksi.4 Menyaksikan dan memastikan semua berjalan lancar, dan bila ada masalah dapat langsung diambil keputusan secara cepat.  Dia tidak meminta laporan dari bawahannya. Kita ketahui bersama, ada suatu masa bawahan melaporkan yang baik-baik saja: asal bapak senang.

Sikap yang berpijak di bumi dan kebijakan-kebijakan pada masyarakat miskin secara langsung seperti kartu pintar dan kartu sehat. Selangsung Jokowi dapat ditemui oleh warganya. Warga dapat langsung menyapa bahkan memanggil-manggilnya “jokowi, jokowi!” Bersentuhan, bersalaman, berbicara tanpa batasan, tanpa protokoler, tanpa rasa sungkan. Bersenda gurau meminta kemeja khasnya sampai meminta bantuan. Hal tersebut menggambarkan keegaliterannya dan kerakyatannya.

Jokowi punya cara tersendiri, selain blusukan adalah makan siang sebagai bagian diplomasi atau lobi. Sambil makan siang Jokowi akan mendengarkan keluhan-keluhan dan keinginan-keinginan warganya. Berdiskusi dan bertukar pikiran pendapat mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi warga dan pemerintahan. Kemudian dikenal dengan “lobi makan siang.” Makan siang bersama satu meja antara warga dan gubernur DKI sebagai pemimpinnya. 6

Kesederhanaannya dari cara berpakaian, cara bertutur sampai pada cara mengambil keputusan. Pemimpin yang langsung menerima, merasakan,  melihat dan mendengar kebutuhan masyarakat.  Dari lapangan masalah muncul, dari sana pula keputusan diambil. “Tinggal, eksekusinya saja, “ demikian Jokowi mengemukakan ketika masih menjabat gubernur DKI Jakarta. Penguasaan lapangan dan praktek langsung di lapangan, langsung penyelesaiannya di lapangan. Pelayanan aparatur  pemerintahan ditujukan untuk kejahteraan warga masyarakat. Kini pelayanan diperluas sebagai “pemerintahan yang saya pimpin akan bekerja untuk memastikan setiap rakyat di seluruh pelosok tanah air, merasakan kehadiran pelayanan pemerintahan,” pidato pelantikan presiden “Di bawah Kehendak Rakyat dan Konstitusi.”7

Blusukan adalah berasal dari bahasa Jawa dialek Solo, berarti perjalanan ke tempat-tempat jauh.  Dalam bahasa Inggris blusukan diterjemaahkan sebagai visite impromtu (kunjungan bersifat spontan). Ketika pers asing memberitakan Jokowi bersama Zuckerberg ke Tanah Abang. Ada perbedaan antara menyamar dan berkunjung. Walaupun keduanya dimaksudkan untuk mengunjungi suatu tempat. Tetapi identitas pelaku tidak diketahui oleh orang yang ditemuinya. Sedangkan blusukan, pelaku melakukannya untuk suatu tujuan tertentu, dalam hal ini sebagai cara pemimpin langsung menjumpai warganya untuk mengetahui persoalan-persoalan dalam kehidupannya. Persoalan kehidupan yang berkaitan atas kebijakan-kebijakan pemerintahan.

Dari Cerita Rakyat Sampai Berita Nyata

Dikisahkan tidak hanya Jokowi yang melakukanya seorang. Beberapa pemimpin lain juga melakukan hal yang sama. Tetapi pada waktu itu tidak disertai oleh para wartawan media cetak dan elektronik. Kita harus menyadari bahwa sekarang adalah era paskaindustri / era informasi. Dalam arti, informasi menjadi komoditas yang bernilai ekonomi. Dan Jokowi melipatgandakan peristiwa blusukan para pemimpin lain.

Soeharto terkenal dengan Kelompecapir (kelompok pendengar pembicara dan pemirsa).9 Pada era Soeharto para petani dan nelayan (kelompok yang sering mengikuti acara ini) akan bertanya jawab dengan Pak Presiden. Keluhan-keluhan dan keinginan disampaikan langsung kepada Bapak Pembangunan. Beberapa acara menggunakan “teleconference” (pertemuan jarak jauh dengan media tv terhubung secara langsung dan pembicaraan dengan telpon)  pada tahun 1980-an.  Walaupun demikian, protokoler, jadwal dan isi acara secara detail telah disusun dan direncanakan sebelumnya. Kegiatan acara berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, dari satu kelompok tani nelayan ke kelompok tani nelayan masyarakat yang lain, dari tema ke tema lain. Tentunya dengan maksud dan keperluan yang berbeda. 10  Pada era ini Indonesia mencapai swasembada pangan. 11

Soekarno lebih tegas menyebut dirinya sebagai penyambung lidah rakyat. Banyak cerita tentang aksi blusukan Soekarno12. Sri Sultan Hamengkubuwono IX, lebih khas lagi, karena beliau sembari melakukan penyamaran dan cerita tersebut diteruskan secara lisan dari generasi ke generasi di Yogyakarta. 13

Dalam sejarah Islam, sahabat Umar bin Khattab R.A. juga melakukan kunjungan langsung kepada rakyat. Kisah terkenalnya adalah beliau dengan Nenek Tua dan Ibu dengan Anak yang Menangis. 14,15

Dalam kisah-kisah raja juga adanya yang menyamar menjadi rakyat jelata dengan maksud yang sama. Kisah Abunawas dan baginda Harun Al Rasyid (Seribu Satu Malam)  juga mengisahkan hal serupa. Bagaimana sang Baginda yang diakali oleh Abunawas sehingga ia terpaksa menyamar menjadi rakyat jelata. Oleh karenanya, dapat berinteraksi dengan warga sehingga dapat langsung mendengar dan melihat langsung. 16,17

Raja Abdullah, Amman Yordania, melakukan penyamaran sebagai wartawan media cetak. Ia ingin mengetahui perilaku birokratnya dan apa yang dipikirkan rakyatnya terhadap birokrat.18

Beberapa kisah raja-raja yang menyamar untuk berbagai keperluan dan maksud tujuan. Dikisahkan dalam banyak cerita rakyat mengenai raja-raja yang langsung mendengar dan melihat kondisi rakyatnya. Raja  atau pangeran  yang harus melepaskan pakaian kebesaran diganti dengan pakaian orang biasa; dengan pakaian biasa sebagaimana rakyat memakainya. Kesetaraan berpakaian ini membuat raja tidak lagi dikenali. Sehingga rakyat dapat berbicara apa saja tanpa rasa sungkan dan rasa takut, ketika ditemuinya. Cerita rakyat mengandung pesan moral dan nilai yang menjadi panduan berperilaku. 19

Servant Leader dalam Kecerdasan Spiritual

Zohar dan Marshall adalah orang yang memberikan perluasan pada kecerdasan dengan menambahkan kecerdasaan spritual sebagai bagian dari aspek kecerdasan manusia. Kecerdasan intelektual mendapatkan sejumlah tantangan karena terlalu sempit melihat aspek kecerdasan manusia,  hanya pada aspek verbal dan hitungan. Howard Gadner pembuka untuk melihat kecerdasan sebagai multi aspek. Ia melihat bahwa banyak orang sangat pintar tidak pada sisi matematika (hitung-hitungan) dan bahasa (verbal) yang tidak dapat diukur oleh kecerdasaan intelektual dengan skor kecerdasaan intelektual yang terkenal disebut IQ (intellegence quotient). Hal yang diukur oleh kecerdasaan intelektual lebih diandalkan pada ranah akademik. Tetapi kita dapat menyaksikan orang-orang seperti ; Susi Susanti, Alan Budikusuma, Taufik Hidayat (peraih emas olimpiade nomer bulutangkis), Basuki Abdullah,  Raden Saleh (pelukis), Sunaryo,  I Nyoman Nuarte (perupa), Bing Slamet, Benyamin S (pelawak legendaris), Gesang, Ibu Sud dan Ibu Kasur adalah orang-orang yang tidak dapat dijelaskan oleh term IQ.  Selanjutnya Goleman memberikan perluasan pada kecakapan interpersonal dan intrapersonal sebagai kecerdasaan emosi.

Zohar dan Marshall (2000),  kecerdasan spiritual adalah “kecerdasan yang diarahkan dan pemecahan masalah dari makna dan nilai; kecerdasan yang kita dapat menempatkan tindakan kita dan kehidupan dengan lebih luas, lebih kaya, makna-konteks yang ada; kecerdasan yang kita dapat menilai, tindakan atau jalur kehidupan lebih bermakna daripada yang lain.”

 

“Kita dapat menggunakan SQ melebihi kecerdasan spiritual tentang religi. SQ membuat kita lebih merasakan, untuk mempersatukan perbedaan, di luar batas ekspresi aktual.  SQ dapat menempatkan kita selalu berhubungan dengan memaknakan dan esensi spirit di belakang semua agama-agama besar. Orang yang memiliki SQ tinggi harus mempraktikkan agama, tetapi tanpa picik, ekslusif, fanatik atau prasangka, “ Zohar dan Marshall (2000).

 

Ada enam jalur kecerdasan spiritual yaitu : 1) jalur kewajiban, 2) jalur pemeliharaan, 3) jalur pengetahuan, 4) jalur tranformasi personal, 5) jalur persaudaraan dan 6) jalur kepemimpinan pelayanan.

 

Jalur kepemimpinan pelayanan, daripada pemimpin sebagai bos. Kepemimpinan pelayanan  (servant leadership) adalah orang yang melayani kemanusiaan dengan menciptakan cara-cara baru untuk umat berhubungan dengan yang lainnya. Mereka meletakkan kesejahteraan masyarakat  lebih tinggi daripada kesejahteraan dirinya dan mengarahkan masyarakat pada arah yang baru. Kepemimpinan abdi adalah jalur spiritual yang tertinggi. Energi memotivasi untuk berjalan adalah kekuasaan. Penggunaan, salah penggunaan dan penyalahgunaan kekuasaan diklasifikasikan sebagai kecerdasan spiritual yang rendah. Kecerdasan spiritual pemimpin pelayanan menciptakan visi baru dan membawa kemungkinan-kemungkinan baru untuk kesejahteraan. Mereka membuat suatu yang mustahil menjadi peluang. Pemimpin pelayanan yang agung tidak kurang dari “Tuhan.”

 

Definisi kecerdasan spiritual bersandar pada konsep spiritual yang berbeda dari religi (agama). Danah Zohar mendefisinikan 12 prinsip yang mendasari kecerdasan spiritual :

  1. Kesadaran-diri (self-awarness) : mengetahui apa yang diyakini dan nilai, apa yang sangat memotivasi diri.
  2. Spotanitas : hidup dan merespon pada setiap peristiwa.
  3. Memiliki visi dan panduan nilai: bertindak berdasarkan prinsip dan keyakinan yang tinggi, dan hidup menyandarkan padanya.
  4. Keseluruhan (holism) : melihat pola yang besar, hubungan dan koneksi; mempunyai rasa memiliki.
  5. Keharuan :  memiliki kualitas “merasakan-dengan” dan empati yang mendalam.
  6. Merayakan perbedaan : menilai orang lain dari perbedaan.
  7. Kemandirian : berdiri menghadap keramaian dan memiliki pendirian sendiri.
  8. Kerendahan hati : memiliki rasa sebagai pemain dalam drama besar kehidupan, satu tempat yang sesuai atau benar di dunia yang besar.
  9. Cenderung mengajukan pertanyaan mendasar “mengapa.” Kebutuhan mengerti sesuatu dan mendapat pengertian yang mendasar.
  10. Kemampuan membingkai ulang: berdiri di belakang situasi dan masalah dan melihat gambaran yang lebih besar atau konteks yang lebih luas.
  11. Menggunakan kesengsaraan (adversity) dengan positif: belajar dan tumbuh dari kesalahan, kemunduran dan penderitaan.
  12. Berartinya kerja: merasakan terpanggil untuk melayani, dan untuk memberikan sumbangsih.

Pemerintahan yang Melayani

Apakah alasan Jokowi melakukan blusukan? Ada beberapa alasan yang sering dikemukan Jokowi mengenai blusukannya.

  1. Langsung melihat permasalahan di lapangan ,
  2. Perintah di lapangan langsung dapat dilaksanakan
  3. Memberikan semangat pada aparaturnya,
  4. Mencegah pejabat-penjabat di bawahnya memberikan laporan yang tidak sesuai,
  5. Inspeksi mendadak untuk memastikan birokrasi harus melayani.
  6. Melatih mata bathin, dan rasa spiritualnya. 20

Dalam memimpin pemerintahan, pemeritahan DKI Jakarta dan pemerintahan kota Solo, Jokowi menekan pemerintahan yang melayani rakyat. Pelbagai bidang dalam pemerintahan bekerja untuk melayani warganya.

Dalam visi misi Jokowi-JK  ada sembilan agenda prioritas disebut NAWACITA (nawa artinya sembilan dan cita adalah tujuan). Salah satu yang penting adalah akan berkomitmen menjalankan reformasi birokrasi dan pelayanan publik. Artinya penyelenggaraan pemerintahan oleh aparatur pemerintahan ditujukan untuk melayani rakyat menuju cita-cita NKRI.

“Perjuangan untuk kemerdekaan adalah satu perjuangan yang tidak mengenal mati.  … Pengabdian kepada perjuangan kemerdekaan, pengabdian kepada kemerdekaan itupun tidak mengenal maut, tidak mengenal habis. … service yang  betul-betul masuk di dalam jiwa, service yang betul-betul pengabdian, service yang demikian itu adalah satu deathless service. … Ya Allah, Ya Rabbi, berilah saya kesempatan, kekuatan, taufik hidayat untuk dedicate my self to this great cause of freedom and to this great service.

Soekarno, Nawaksara23.

Pustaka

 

  1. http://www.tempo.co/read/news/2014/02/03/214550625/Wali-Kota-Jakarta-Barat-Tak-Ada-Saat-Jokowi-Sidak  walikota Jakarta Barat Tak Ada Saat Jokowi Sidak
  2.  http://www.tempo.co/read/news/2013/11/13/083529276/Jokowi-Bisa-Senyum-Puas-Ketika-Sidak-di-Kalibata  Jokowi Bisa Senyum Puas Ketia Sidak di Kalibata
  3. http://www.tempo.co/read/news/2013/10/18/083522779/Sidak-ke-Kecamatan-Jokowi-Beri-Permen-dan-Air  Sidak ke Kecamatan Jokowi Beri Permen dan Air
  4. http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/23/10113043/Disidak.Jokowi..Pegawai.Kelurahan.Senen.Panik  Disidak Jokowi Pegawai Kelurahan Senen Panik
  5. http://fakta12.com/?p=1642   Makan Siang ala Jokowi
  6. http://megapolitan.kompas.com/read/2013/10/02/0706050/.Menang.Tanpa.Ngasorake.Diplomasi.Makan.Siang.ala.Jokowi.  Menang Tanpa Ngasorake Diploasi Makan Siang ala Jokowi
  7. https://www.bersosial.com/threads/isi-pidato-lengkap-jokowi-saat-pelantikan-presiden.14107/ “Di bawah Kehendak Rakyat dan Konstitusi”
  8. http://www.thejakartapost.com/news/2014/10/14/jokowi-takes-zuckerberg-blusukan.html  , Jokowi Takes Zuckerberg Blusukan.
  9. http://id.wikipedia.org ,  Kelompecapir
  10. Vatikiostis Michael R.J. 1993, Indonesian Politics Under Soeharto, Routledge, London
  11.  http://muspen.kominfo.go.id/index.php/berita/270-kelompencapir  Kelompecapir
  12. http://paneldinding.weebly.com/tedys-blog/sejarah-blusukan-dari-soekarno-ke-jokowi  Sejarah Blusukan dari Soekarno ke Jokowi.
  13. http://killtheblog.com/2011/01/22/membaca-tahta-untuk-rakyat/ Sultan HB IX
  14. http://edukasi.kompasiana.com/2011/08/17/kepedulian-umar-bin-khattab-kepada-rakyatnya-389058.html, Umar bin Khattab kepada Rakyatnya
  15. http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/14/khalifah-umar-bin-khattab-dan-nenek-tua/, Umar bin Khattab dan Nenek Tua
  16. http://www.merdeka.com/ramadan/jadikan-raja-sebagai-budak.html, Baginda Harun Al Rasyid Menyamar
  17. http://kisahimuslim.blogspot.com/2014/07/kisah-abunawas-mahkota-dari-surga.html, Baginda Harun Al Rasyid Menyamar
  18. http://www.independent.co.uk/news/world/incognito-king-may-not-be-so-plucky-forever-1112060.html Raja Abdullah Menyamar.
  19. Danadjaya, 1997, Floklor Indonesi, Jakarta, Grafik Press.
  20. Zohar, D. & Marshall, I. (2000). Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence.London: Bloomsbury Publishing.
  21. Zohar, Danah (2005).Spiritually intelligent leadership. Leader to Leader.
  22. http://m.liputan6.com/news/read/761109/alasan-jokowi-blusukan-melatih-mata-batin
  23. http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/home/ , Pidato Presiden RI